CB24.ID- PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah operasionalnya di Kalimantan dan Sumatera. Upaya ini mencakup penguatan sistem deteksi dini, patroli lapangan, kesiapan personel dan sarana pemadaman, serta penyediaan sumber air di kawasan rawan kebakaran.
Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah Dashboard Monitoring Karhutla PTPN IV untuk memantau kemunculan titik panas (hotspot) berdasarkan kedekatannya dengan lokasi kebun. Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim di regional dan unit kebun untuk melakukan verifikasi lapangan serta menentukan prioritas penanganan. Selain pemantauan berbasis teknologi, perusahaan secara periodik melaksanakan Apel Siaga Karhutla untuk memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, jalur komunikasi, dan mekanisme respons.
Di Kalimantan, intensitas pemantauan dan patroli ditingkatkan terutama pada area dengan tingkat kerawanan lebih tinggi selama periode kemarau. Sementara di Sumatera, mitigasi diperkuat melalui penyediaan infrastruktur pendukung, termasuk sumber air dan fasilitas pencegahan kebakaran di sejumlah kawasan rawan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan bahwa pengendalian Karhutla merupakan bagian dari manajemen risiko perusahaan yang dipersiapkan secara berkelanjutan. “Mitigasi Karhutla harus dilakukan jauh sebelum api muncul,” ujar Jatmiko di Jakarta. Ia menambahkan bahwa kebijakan Zero Burning merupakan bagian dari komitmen PTPN IV dalam menjalankan praktik perkebunan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Bagi PalmCo, pencegahan kebakaran bukan hanya terkait perlindungan terhadap aset perusahaan. Yang jauh lebih penting adalah perlindungan terhadap masyarakat, lingkungan, dan ekosistem di sekitar perkebunan,” kata Jatmiko.
Penguatan sistem pencegahan juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas personel, termasuk pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Bimtek Dalkarhutla) di Kalimantan Barat. Perusahaan juga secara rutin memeriksa kesiapan pompa, selang, alat pelindung diri, kendaraan operasional, alat komunikasi, serta sumber air untuk kondisi darurat.
PTPN IV memperkuat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat pemerintah, dan masyarakat di wilayah operasional. Di Jambi, pendekatan pencegahan melibatkan masyarakat melalui program pemberdayaan di desa sekitar perkebunan, termasuk penguatan kesiapsiagaan dan penyediaan infrastruktur sumber air untuk kawasan gambut.
“Karhutla tidak mengenal batas administrasi maupun batas konsesi. Karena itu, pencegahannya tidak mungkin dilakukan sendiri. Kuncinya adalah deteksi dini, respons cepat, dan kolaborasi seluruh pihak,” tegas Jatmiko.















