CB24.ID– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah terus menuai apresiasi dari berbagai kalangan di Kota Jambi. Pada hari ini, Kamis (29/1), program ini kembali menjadi sorotan positif berkat testimoni hangat dari peserta dan pelaksananya, yang menyoroti aspek disiplin operasional hingga kualitas menu yang memuaskan. Di tengah tantangan logistik distribusi makanan bergizi ke sekolah-sekolah, MBG terbukti tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi siswa, tetapi juga membentuk ekosistem kerja yang terstruktur dan berdampak positif bagi pelaku usahanya.
Salah satu cerita inspiratif datang dari M. Randy Pangestu, Asisten Driver SPPG (Satuan Pengantar Paket Gizi) Telanaipura 2. Dengan penuh syukur, Randy berbagi pengalamannya saat bergabung dalam program ini. “Alhamdulillah saya bisa bergabung pada Program Makan Bergizi Gratis ini. Kesadaran disiplin sangat diterapkan di sini, mulai dari pengantaran paket MBG yang harus tepat waktu sampai penjemputan ompreng,” ungkap Randy sambil tersenyum lebar.
M. Randy Pangestu , Asisten Driver SPPG Telanaipura 2
Ia juga tak lupa menyebut manfaat finansial yang dirasakannya. “Kebetulan saya masih bujangan ya… hitung-hitung bisa menabung untuk persiapan menikah nanti,” tambahnya dengan nada optimis. Kisah Randy mencerminkan bagaimana MBG tidak hanya memberdayakan siswa, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi pekerja lapangan di Jambi, khususnya di wilayah Telanaipura yang padat penduduk.
Tak kalah antusias, suara dari kalangan siswa juga menguatkan keberhasilan program ini. Angga, siswa Prodi Pemasaran Kelas XII SMKN 1 Kota Jambi, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas menu MBG hari ini. “Menu MBG sudah mantap pak dan cocok dengan selera saya. Kebetulan hari ini lauknya ayam yang menambah selera makan saya pak. Kalau bisa tiap hari lauknya ayam pak,” ujar Angga penuh semangat saat ditemui di sekolahnya.
Angga , Prodi Pemasaran , Kelas XII SMKN 1 Kota Jambi
Respons Angga ini menunjukkan betapa program MBG berhasil menyentuh preferensi remaja, di mana variasi lauk pauk seperti ayam menjadi daya tarik utama. SMKN 1 Kota Jambi, sebagai salah satu vokasi unggulan di wilayah ini, menjadi contoh nyata implementasi MBG yang selaras dengan kebutuhan gizi siswa usia produktif.
Program MBG sendiri telah menjadi bagian integral dari upaya pemerintah pusat dan daerah untuk mengatasi stunting serta meningkatkan prestasi belajar siswa di Jambi. Sejak diluncurkan, program ini melibatkan ribuan siswa di berbagai sekolah negeri dan swasta, dengan distribusi paket makanan yang dikelola secara ketat oleh tim logistik seperti SPPG. Di Jambi, tantangan seperti kemacetan lalu lintas dan jarak antar sekolah diatasi dengan protokol disiplin waktu, sebagaimana dialami Randy. Sementara itu, menu harian yang dirancang nutrisionis memastikan keseimbangan gizi, meski permintaan siswa seperti Angga menunjukkan ruang inovasi pada variasi lauk.
Dampak positif ini juga terlihat dari data awal pelaksanaan MBG di Jambi tahun 2026, di mana tingkat kepuasan siswa mencapai lebih dari 85 persen berdasarkan survei internal Dinas Pendidikan setempat. Testimoni Randy dan Angga menjadi bukti konkret bahwa program ini tak hanya soal makanan, tapi juga pembentukan karakter disiplin dan kemandirian finansial bagi pelaksananya.
Program MBG di Kota Jambi harus terus diperkuat dengan komitmen penuh dari semua pihak. Pemerintah daerah wajib memastikan suplai lauk berprotein tinggi seperti ayam secara berkala, sementara pelaku logistik seperti Randy harus didukung insentif lebih baik untuk menjaga disiplin tepat waktu. Keberhasilan hari ini adalah panggilan tegas: MBG bukan sekadar program sementara, melainkan fondasi jangka panjang bagi generasi Jambi yang sehat dan kompetitif. (Ag)















