CB24.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah terus menuai apresiasi dari masyarakat, terutama para orangtua dan pendidik yang merasakan dampak langsungnya. Di tengah tantangan ekonomi rumah tangga berpenghasilan rendah, MBG tidak hanya meringankan beban orangtua, tetapi juga memastikan asupan gizi anak-anak terpenuhi, sehingga mendukung proses belajar mengajar yang lebih optimal. Kisah nyata dari penerima manfaat di Jambi menunjukkan betapa vitalnya inisiatif ini bagi keluarga pekerja serabutan dan lembaga pendidikan anak usia dini.
Yuli, seorang ibu rumah tangga yang anaknya bersekolah di SDN 198 Jambi, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas kehadiran MBG. “Saya bersyukur adanya MBG ini, Pak. Pertama, saya tidak memikirkan lagi untuk bekal anak saya yang sekolah di SDN 198, serta bisa untuk memenuhi gizinya. Sedang anak yang kecil ini (di bawah lima tahun), alhamdulillah juga dapat MBG, bisa menambah asupan gizi. Maklum, suami saya kebetulan kerja kuli bangunan, yang penghasilannya pas-pasan. Pokoknya, saya berterima kasih adanya MBG ini, Pak,” tutur Yuli dengan senang hati, sambil tersenyum lebar saat berbagi cerita.

Yuli, orangtua penerima manfaat MBG
Pengalaman Yuli mencerminkan realitas banyak keluarga di Jambi yang bergantung pada pendapatan harian suami sebagai buruh bangunan. Penghasilan yang tak menentu sering kali membuat orangtua kesulitan menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak mereka, apalagi di tengah kenaikan harga bahan pokok. MBG hadir sebagai solusi konkret, menyediakan menu sehat yang tidak hanya praktis untuk bekal sekolah, tetapi juga menjamin kebutuhan gizi harian anak usia sekolah dan balita. Bagi Yuli, program ini seperti angin segar yang membebaskan pikirannya dari kekhawatiran dasar, sehingga ia bisa fokus pada pendidikan dan kesehatan keluarga.
Sementara itu, dari sisi lembaga pendidikan, Triana Mayasari, S.Pd., Kepala Sekolah TK Al-Aqsha, juga menyampaikan pandangannya yang positif. Sekolah yang dipimpinnya melayani sekitar 70 anak TK dan 30 anak di Tempat Penitipan Anak (TPA). “Saya selaku Kepala Sekolah di TK Al-Aqsha yang berjumlah tujuh puluh anak sedang TPA sekitar tiga puluh anak, saya selama ini setiap anak-anak menyantap MBG, saya awasi langsung. Umumnya mereka suka yang berkuah, ayam katsu, nugget. Sedang untuk buah-buahan yang disukai anak-anak yaitu jeruk dan kelengkeng. Perlu kesabaran dalam mendampingi anak-anak ketika menyantap MBG, Pak, sehingga asupan gizi mereka terpenuhi,” tutur Maya—panggilan akrabnya—dengan senyum ramah.

Triana Mayasari, S.Pd ( Kepala Sekolah TK . Al- Aqsha )
Pengawasan langsung dari Triana Mayasari menjamin bahwa MBG tidak hanya disajikan, tapi juga dikonsumsi dengan baik oleh anak-anak. Menu favorit seperti ayam katsu, nugget berkuah, jeruk, dan kelengkeng membuat proses makan menjadi menyenangkan, meski dibutuhkan kesabaran ekstra dari guru untuk mendampingi. Hal ini krusial di usia dini, di mana pola makan yang tepat membentuk fondasi kesehatan jangka panjang. TK Al-Aqsha menjadi contoh bagaimana MBG terintegrasi sempurna dalam rutinitas pendidikan, meningkatkan antusiasme anak-anak terhadap makanan sehat. (Ag)















