CB24.ID- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat di Kota Jambi terus menunjukkan kemajuan positif, khususnya selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Program ini, yang bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan siswa sekolah dasar hingga menengah, telah menjangkau ribuan anak didik di berbagai lembaga pendidikan negeri dan swasta. Di tengah hiruk-pikuk persiapan ibadah puasa, MBG menjadi penopang utama bagi siswa untuk menjaga stamina belajar, meski tantangan logistik seperti distribusi makanan tetap menjadi sorotan.
Pelaksanaan di tingkat sekolah-sekolah dasar menunjukkan stabilitas yang menggembirakan. Syanti Dewi, guru kelas di SDN 91/IV Kota Jambi, yang memiliki sekitar 100 siswa, menyampaikan pengalamannya dengan penuh keyakinan.

Syanti Dewi, SDN 91 / IV Kota Jambi
“Pelaksanaan Program MBG di bulan suci Ramadhan di sekolah sini yang muridnya sekitar seratus siswa berjalan aman-aman saja, Pak,” ujar Syanti dengan senyum ramah saat ditemui di lingkungan sekolah, Jumat (6/3/2026). Ia menambahkan bahwa distribusi susu dua kali seminggu sudah berjalan lancar, membantu siswa menjaga asupan kalsium di tengah pola makan yang terbatas saat berpuasa. Namun, Syanti memberikan saran praktis untuk optimalisasi. “Saran saya, yang makanan rebusan contohnya kedelai atau kacang tidak usah karena cepat bau. Kalau bisa buahnya lebih bervariasi, misal pemberian buah pir,” tuturnya. Masukan ini relevan mengingat iklim tropis Jambi yang lembab, di mana makanan rebusan rentan basi jika tidak langsung dikonsumsi.
Tidak hanya di tingkat SD, program MBG juga mendapat sambutan baik di sekolah menengah kejuruan. Rando Pratama, siswa kelas XII jurusan Teknik Bisnis dan Manajemen (TBSM) di SMK IX Lurah Kota Jambi, berbagi pandangannya sebagai penerima manfaat langsung.

Rando Pratama, kelas XII TBSM , SMK IX Lurah Kota Jambi
“Di SMK kami, MBG ini bener-bener ngebantu banget buat konsentrasi belajar, apalagi pas Ramadhan gini. Susu dan buahnya enak, tapi ya iya lah kalau bisa ditambah variasi biar gak bosen,” kata Rando sambil menunjukkan menu harian yang diterimanya. Ia menekankan bahwa program ini telah meningkatkan kehadiran siswa hingga 95 persen, meski ada keluhan kecil soal rasa lauk yang kadang kurang variatif. Rando juga mengapresiasi koordinasi panitia sekolah dengan Dinas Pendidikan Kota Jambi, yang memastikan pengiriman tepat waktu setiap Selasa dan Kamis.
Lebih luas lagi, MBG di Jambi tidak hanya soal gizi fisik, tapi juga membangun kesadaran sosial di kalangan siswa. Di SDN 91/IV, misalnya, siswa diajarkan berbagi sisa makanan dengan tetangga sekitar, sementara di SMK IX Lurah, program ini diintegrasikan dengan pelajaran manajemen rantai pasok, di mana siswa seperti Rando belajar menghitung efisiensi distribusi. Namun, tantangan tetap ada: anggaran terbatas membuat variasi menu belum merata, dan pengawasan higienis perlu ditingkatkan di sekolah pinggiran.
Secara tegas, pemerintah daerah Kota Jambi harus segera responsif terhadap masukan guru dan siswa seperti Syanti Dewi dan Rando Pratama dengan merevisi menu MBG agar lebih variatif, higienis, dan tahan lama, sehingga program ini tidak hanya berjalan aman-aman saja, tapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang bagi generasi emas Indonesia yang sehat dan cerdas. (Ag)















