CB24.ID- Novillya Dewi, pengurus Yayasan Mitra Pangan Global dan Nusantara Pangan Sejahtera, menggebrak dengan kecaman pedas atas penutupan paksa 4 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Korwil MBG dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Alasan markup belanja tak sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET)? Omong kosong! Klaim mereka sudah patuh aturan sejak Agustus 2025. Seruan ini dilontarkan Novi dalam konferensi pers darurat di rumahnya, kawasan BLK Telanaipura, Rabu pagi (11/2/2026), sebagai hak jawab tegas atas berita provokatif media online “Dugaan Mark Up Yayasan, Program MBG di Tanjabtim Terhenti Serentak”.
Belasan wartawan menyaksikan Novi gebuk argumen, “Belanja kami ikuti HET Disperindag Tanjabtim dan Jambi! Lancar mulus berbulan-bulan, tiba-tiba klaim ditolak karena HET SPPG muncul belakangan. Komunikasikan dulu dong ada jeda buat sesuaikan supplier! TO SPPG sudah kirim, koperasi anggap Kepala SPPG acc harga dari Disperindag-SP2KP Jambi. Selisih harga pasar wajar, tak pernah melewati HET!” tegasnya lantang.
Dampak brutal,12 ribu penerima manfaat gizi, Novi paksakan nombok Rp 600 juta dari kantong sendiri. “Belanja seminggu hilang! Saya bayar supplier orang pasar jangan sampai putaran ekonomi rakyat mati!” geramnya. Langkah lanjut, surat ke Badan Gizi Nasional (BGN) sudah terbang minta instruksi darurat agar dapur hidup lagi.
Korban penutupan Senin (9/2/2026): SPPG Kota Baru & Blok C Nuansa Mitra Sejati (Geragai), Parit Culum Gontor (Muara Sabak Barat), SPPG Dendang. Novi ultimatum SPPG-Korwil: Buka dapur sekarang juga! Birokrasi picu krisis gizi 12 ribu anak Tanjabtim tak boleh jadi korban! (Ag)















