CB24.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Jambi kembali mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah dan orang tua siswa. Senin (26/1/2026), di SDN 220/IV Kota Jambi, para pemangku kepentingan pendidikan menilai MBG tidak hanya membantu pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga, sehingga dinilai penting untuk terus dilanjutkan.
Kepala Sekolah SDN 220/IV Kota Jambi, Weni Widarti, S.Pd., M.Pd., mengaku tidak menemukan masalah berarti terkait kualitas menu yang diterima siswa di sekolahnya. “Saya kira untuk menu MBG tidak ada masalah. Hal ini pernah saya mencicipi langsung menunya, kebetulan ada paket makanan yang masih utuh karena siswa yang bersangkutan tidak masuk sekolah,” tutur Weni dengan senyum ramah. Ia menilai, justru dari pengalaman mencicipi langsung itulah ia semakin yakin bahwa MBG layak untuk anak-anak.
Menurut Weni, rasa dan tampilan makanan sudah sesuai dengan kebutuhan anak usia sekolah dasar. “Ternyata dari rasa dan penyajiannya sesuai untuk ukuran anak sekolah dasar, termasuk buah-buahannya segar,” ujarnya. Ia menambahkan, siswa-siswa di SDN 220/IV sangat terbantu dengan adanya program ini, terutama karena banyak orang tua yang harus berhemat dalam memenuhi kebutuhan harian.
Weni Widarti, S.Pd., M.Pd. Kepala Sekolah SDN 220 / IV Kota Jambi
Atas dasar itu, Weni menyampaikan harapan tegas agar MBG tidak berhenti di tengah jalan. “Jadi saya berharap agar program ini berkelanjutan karena siswa-siswa di sini terbantu,” katanya. Baginya, MBG telah menjadi bagian penting dari ekosistem sekolah, yang tidak hanya mendukung kesehatan, tetapi juga kedisiplinan dan semangat belajar peserta didik.
Suara dukungan juga datang dari kalangan orang tua. Ujang, orang tua penerima manfaat MBG yang anaknya duduk di kelas empat sekolah dasar, menegaskan bahwa selama ini tidak ada masalah berarti dengan paket makanan yang diterima anaknya. “Kebetulan anak saya kelas empat sekolah dasar, selama ini tidak ada kendala berarti dengan paket Makan Bergizi Gratis. Dia selalu bercerita bahwa makanannya enak-enak katanya,” tutur Ujang, yang juga membuka usaha rumah makan di depan Pasar Villa Kenali.
Ujang , orang tua penerima manfaat MBG
Sebagai pelaku usaha kuliner, Ujang menilai kualitas rasa dan kelayakan MBG cukup baik. Namun, ia menyoroti adanya wacana sebagian wali murid yang mengusulkan agar program MBG diganti dalam bentuk uang tunai. “Terus, sebagian ada wali murid mengusulkan agar program MBG ini diganti berupa uang, saya pribadi tidak setuju. Hal ini takut disalahgunakan,” tegasnya. Ia khawatir, jika diganti uang, dana tersebut tidak sepenuhnya dibelikan makanan bergizi untuk anak, sehingga tujuan program bisa melenceng.
Pandangan Weni dan Ujang sejalan dengan desain awal program MBG nasional, yang memang digulirkan sebagai intervensi langsung pemenuhan gizi melalui makanan siap santap, bukan bantuan uang, agar lebih terkontrol dari sisi kualitas dan keamanan pangan. Di Kota Jambi, program ini sejak 2025 menyasar ribuan siswa dari berbagai jenjang, dengan pengawasan kualitas oleh Dinas Kesehatan dan Badan POM untuk memastikan standar gizi dan kehigienisan tetap terjaga.
Secara tegas, suara lapangan dari kepala sekolah dan orang tua di Kota Jambi menunjukkan bahwa MBG harus terus dijalankan dalam bentuk makanan siap santap yang bergizi, bukan diganti uang tunai. Pemerintah daerah dan penyedia layanan wajib menjaga kesinambungan, kualitas rasa, dan kesegaran buah serta lauk, agar program ini benar-benar menjadi tameng terhadap kekurangan gizi dan fondasi bagi lahirnya generasi Jambi yang sehat, fokus belajar, dan siap bersaing. (Ag)















