CB24.ID- Upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan emisi karbon terus didorong melalui inovasi di sektor perkebunan.
PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mempercepat pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) di berbagai wilayah operasionalnya sepanjang 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam merespons penurunan produksi gas bumi nasional, sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih berbasis sumber daya domestik.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, mengatakan, pada 2026 perusahaan memprioritaskan pelaksanaan groundbreaking delapan unit CBG baru dari total 17 proyek yang direncanakan. Saat ini, satu unit telah dalam tahap pembangunan.
“Fokus kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi memastikan integrasi dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, distribusi, hingga kepastian pasar melalui skema offtaker,” kata Jatmiko dalam keterangan di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurut dia, pengembangan CBG diarahkan untuk membangun ekosistem energi hijau yang berkelanjutan. Selain menekan emisi gas rumah kaca, proyek ini juga diharapkan menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah industri sawit.
PalmCo saat ini secara aktif mengelola 68 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah tandan buah segar (TBS) mencapai sekitar 12 juta ton per tahun. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 7,2 juta ton limbah cair POME setiap tahun—yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi terbesar di pabrik kelapa sawit.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan POME dinilai signifikan. Limbah ini berkontribusi sekitar 44 persen terhadap total emisi gas rumah kaca di pabrik kelapa sawit, dengan estimasi mencapai 200 kilogram CO2 ekuivalen per meter kubik. Pengolahannya menjadi CBG tidak hanya menekan emisi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah limbah.
Jatmiko menambahkan, pengembangan CBG merupakan bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tuntutan dekarbonisasi global.
“PalmCo ingin memastikan setiap langkah bisnis tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan dan ketahanan energi nasional,” kata dia.
Langkah ini menegaskan pergeseran peran industri sawit, dari sekadar penghasil komoditas menjadi bagian penting dalam ekosistem energi terbarukan Indonesia.(*)















