CB24.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah terus menunjukkan kemajuan di lapangan, khususnya di wilayah Kelurahan Pematang Sulur, Kecamatan Telanai, Kota Jambi. Pengantaran paket makanan bergizi ini berjalan lancar tanpa kendala signifikan, menurut kesaksian langsung dari para pelaksana dan penerima manfaat. Program ini menargetkan kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD, sebagai upaya pemerintah daerah untuk mengatasi stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Yanti, seorang kader Posyandu Cemara dari Kelurahan Pematang Sulur, menyampaikan pengalamannya dalam pengantaran paket MBG.

“Tidak ada kendala yang berarti. Kebetulan kami bergabung dengan SPPG Telanai 1, sasarannya yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD,” ujar Yanti dengan senyum simpul saat ditemui tim pelaporan di lokasi. Ia menambahkan bahwa keluhan utama dari penerima manfaat justru bukan pada proses pengantaran, melainkan variasi menu. “Biasanya keluhannya dari mereka yaitu variasi menu, dan hal ini langsung kami sampaikan ke Kepala SPPG-nya. Sedang yang lainnya aman-aman saja,” lanjutnya.
Pengakuan Yanti ini mencerminkan komitmen tim lapangan dalam menjembatani aspirasi masyarakat ke tingkat pengelola program. Posyandu Cemara, sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak di Pematang Sulur, telah menjadi mitra strategis SPPG Telanai 1. Data dari Dinas Kesehatan Kota Jambi menunjukkan bahwa sejak peluncuran MBG tahun ini, lebih dari 500 paket telah disalurkan di wilayah tersebut, dengan tingkat penyerapan mencapai 95 persen. Variasi menu yang menjadi isu ini diyakini dapat diatasi melalui koordinasi lebih lanjut, mengingat bahan baku lokal seperti ikan sungai dan sayur organik dari petani Jambi berpotensi memperkaya pilihan.
Di sisi lain, program MBG juga meraih apresiasi dari kalangan pelajar. Hendra Maulana, siswa TBSM Kelas 3 di SMK IX Lurah Kota Jambi, berbagi pengalamannya saat menyantap MBG di sekolah.

“Syukur alhamdulillah, dalam menyantap MBG ini aman-aman saja. Mungkin yang perlu diperhatikan sambal dan susu, karena sudah lama tidak ada susu,” tutur Hendra sambil menikmati paket makanannya. Komentar Hendra ini menyoroti aspek rasa dan kelengkapan lauk pendamping, yang menjadi penunjang kepuasan siswa di tengah jadwal belajar yang padat.
SMK IX Lurah, sebagai salah satu sekolah vokasi unggulan di Kota Jambi, telah mengintegrasikan MBG ke dalam program makan siang siswa sejak awal 2026. Meski distribusi di sekolah ini relatif mulus, masukan Hendra soal sambal dan susu UHT mengingatkan pada tantangan logistik pasca-pandemi, di mana pasokan susu sempat terhambat. Kepala Sekolah SMK IX Lurah, dalam pernyataan terpisah, menyatakan bahwa pihaknya akan menyampaikan saran ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk evaluasi stok.
Program MBG secara keseluruhan telah menjadi instrumen penting dalam ekosistem gizi Jambi, sejalan dengan target RPJMD Kota Jambi 2021-2026 yang menekankan penurunan prevalensi stunting dari 25 persen menjadi di bawah 15 persen. Kolaborasi antara posyandu, SPPG, dan sekolah seperti yang terlihat di Pematang Sulur dan SMK IX menunjukkan model pelayanan yang efektif. Namun, masukan dari Yanti dan Hendra menjadi pengingat bahwa keberlanjutan program memerlukan respons cepat terhadap feedback lapangan. (Ag)















