CB24.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 9 Lurah, Kota Jambi, menuai apresiasi dari para guru. Program unggulan pemerintahan pusat yang bertujuan meningkatkan gizi dan konsentrasi siswa ini berjalan aman, terkendali, dan tepat waktu, meski masih ada catatan kecil terkait variasi menu. Komentar positif dari tenaga pendidik di sekolah vokasi tersebut menjadi cerminan keberhasilan implementasi MBG di tingkat lokal, khususnya bagi siswa dari keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
Yusmely, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia di SMK IX Lurah, menyampaikan pengalamannya secara langsung sebagai bagian dari tim pelaksana. “Syukur alhamdulillah, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di SMK IX Lurah berjalan aman dan terkendali. Pengantarannya juga tepat waktu. Disamping guru, saya juga panitia pengaturan MBG ke siswa bersama guru dan tata usaha lainnya,” ujar Yusmely dengan ramahnya saat ditemui wartawan di sela istirahat makan siang, Minggu (3/5/2026).
Menurut Yusmely, koordinasi antar tim sekolah menjadi kunci kelancaran program ini. Setiap hari, makanan dikirim dari katering resmi yang ditunjuk pemerintah daerah, dan dibagikan melalui posko khusus di kantin sekolah.

Yusmely , S.Pd
“Untuk menu, saya kira ya… terkadang ada kurangnya yaitu sambal dan susu. Sedangkan yang lain saya kira aman,” tambahnya. Kekurangan sambal dan susu ini, menurut Yusmely, bukan masalah struktural melainkan variasi harian yang bisa diatasi dengan stok cadangan. Ia menekankan bahwa secara keseluruhan, porsi nasi, lauk-pauk seperti ayam goreng atau ikan, serta sayur sudah memenuhi standar gizi harian siswa remaja.
Sementara itu, Ramadhani, S.S., Guru Bahasa dan Sastra Inggris di sekolah yang sama, menyoroti manfaat sosial program ini bagi siswa.

Ramadhani, S.S
“Kehadiran Program Makan Bergizi Gratis di sekolah ini ditunggu-tunggu oleh mereka. Maklum, orangtuanya sebagian besar ekonominya menengah ke bawah,” ungkap Ramadhani dengan penuh harap. Ia mengamati bahwa sebelum MBG, banyak siswa datang ke sekolah dengan bekal minim atau bahkan tanpa sarapan, yang berdampak pada konsentrasi belajar di kelas pagi.
Ramadhani juga memberikan saran konstruktif terkait penyajian menu. “Untuk menu, saya kira sudah tidak ada masalah. Saran saya, kalau bisa pemberian MBG pas lauk telur, telurnya rebusan yang masih ada kulitnya. Hal ini andai tidak dimakan bisa dibawa pulang siswa, dan kalau telur ada kulitnya bisa bertahan lama,” jelasnya. Ide ini lahir dari pengamatan bahwa siswa sering kali tidak menghabiskan semua lauk di sekolah, sehingga telur rebus berkulit bisa menjadi cadangan gizi untuk keluarga di rumah. Saran ini sejalan dengan prinsip MBG yang tidak hanya fokus pada konsumsi di tempat tapi juga dampak berkelanjutan bagi rumah tangga. (Ag)















