CB24.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat terus menuai antusiasme di kalangan masyarakat Kota Jambi, khususnya di lembaga pendidikan dan penitipan anak. Inisiatif ini, yang bertujuan memerangi stunting dan meningkatkan gizi generasi muda, menjadi penyelamat bagi keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Namun, di balik sambutan hangat, muncul masukan berharga terkait frekuensi pemberian, variasi menu, dan ketersediaan susu yang masih menjadi tantangan di wilayah kota.
Kehadiran MBG di sekolah-sekolah Kota Jambi memang seperti angin segar, terutama bagi orang tua yang kesulitan menyediakan asupan bergizi bagi anak-anaknya. Iyut, pegawai Tata Usaha di SMK IX Lurah Kota Jambi, menyampaikan kegembiraan yang dirasakan siswanya. “Kehadiran MBG di sekolah sini memang ditunggu-tunggu oleh siswa. Maklum, orang tuanya sebagian besar ekonominya menengah ke bawah,” ujar Iyut penuh semangat.

Iyut, pegawai Tata Usaha di SMK IX Lurah Kota Jambi
Menurut Iyut, kualitas menu MBG tidak menimbulkan masalah signifikan. Siswa menerima porsi yang layak, dengan variasi yang cukup menarik perhatian remaja di sekolah vokasi tersebut. Namun, ia mengusulkan perbaikan agar program ini lebih optimal. “Untuk menu tidak ada masalah. Mungkin masukan saya, pemberian sambak (sambal), terus pemberian MBG kalau bisa satu minggu sekali saja. Minggu kemarin sempat dua kali seminggu,” tambahnya. Frekuensi yang terlalu sering, menurut Iyut, bisa menjadi beban logistik bagi panitia sekolah, meski manfaat nutrisinya tetap diakui. Ia berharap program ini berkelanjutan. “Semoga program ini tetap,” pintanya.
Sambutan positif tidak hanya datang dari jenjang menengah. Di level pendidikan anak usia dini (PAUD), program MBG juga menjadi favorit. Yanti Mustapa, Pemilik Yayasan TK Al-Aqsha di Kota Jambi, berbagi pengalaman dari tujuh puluh anak didiknya di TK serta sekitar tiga puluh anak di Tempat Penitipan Anak (TPA) yang dikelolanya. “Sepengetahuan saya selama ini, setiap anak-anak menyantap MBG. Umumnya mereka suka yang berkuah, ayam katsu, nugget,” ceritakan Yanti dengan senyum ramah.

Yanti Mustapa, Pemilik Yayasan TK Al-Aqsha di Kota Jambi
Yanti mengamati preferensi anak-anak secara detail. Menu berkuah seperti sup atau kari selalu habis dalam sekejap, sementara ayam katsu dan nugget menjadi primadona karena teksturnya yang renyah. Untuk buah-buahan, jeruk dan kelengkeng paling disukai karena rasa manis dan segar yang mudah diterima lidah balita. “Yang sudah lama tidak dapat yaitu susu. Informasinya memang untuk di Kota Jambi stoknya tidak ada, tapi mengapa di kabupaten ada? Hal ini penting supaya gizinya betul-betul terpenuhi,” tegas Yanti, menyoroti ketimpangan distribusi yang berpotensi mengganggu target gizi nasional. (Ag)















